Doa Meminta Anak Saleh

Salah satu impian setiap orang adalah memiliki keturunan sebagai generasi penerus, terutama mereka yang telah menikah. Tak dipungkiri memiliki anak menjadi salah satu tujuan dari sebuah pernikahan. Bahkan Rasulullah saw sendiri mendorong umatnya supaya memiliki keturunan yang banyak.

Tentu mempunyai keturunan saja tidak cukup, akan tetapi impian berikutnya adalah memiliki keturunan yang berkualitas, memiliki akhlak mulia, yang dalam agama Islam disebut dengan istilah waladun shalihun (anak saleh).

Dalam upaya memperoleh keturunan yang saleh ini, Al-Qur’an mengisahkan para nabi yang memanjatkan doa kepada Allah SWT supaya dikaruniai anak yang saleh. Seperti doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim a.s dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ. (الصافات: 100)

Artinya: “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat/37: 100)

Mengomentari ayat di atas, imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa di antara karakter anak saleh itu menaati perintah Allah, tidak mendurhakai-Nya, melakukan kebaikan di muka bumi, dan tidak berbuat kerusakan padanya.

Menarik untuk direnungkan lebih lanjut, mengapa Al-Qur’an mengajarkan kita supaya fokus memohon anak yang saleh, bukan anak yang pintar atau kaya raya atau lainnya?

Imam Ibnu ‘Asyur mengemukakan alasan penggunaan kata min ash-shalihin bahwa karunia Allah berupa anak menjadi lengkap dan sempurna bila anak tersebut saleh, dan sungguh anak yang saleh itu akan menjadi qurrata a’yun bagi kedua orang tuanya.

Hikmah lainnya adalah sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw di dalam hadits yang artinya : “Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal. Yakni, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (h.r. Muslim, 1631 dari Abu Hurairah r.a.)

Baca Juga :  Doa Ketika Memasuki Bulan Rajab

Menurut imam An-Nawawi rahimahullah salah satu faidah hadits di atas adalah keutamaan menikah dengan mengharap mempunyai keturunan yang saleh. Jadi, dengan memiliki anak yang saleh, kita mempunyai tabungan dunia akhirat. Sewaktu di dunia ia menjadi qurrata a’yun (penyejuk hati) dan kelak di alam barzakh ia akan selalu mengirimkan doa untuk kita.

Sementara anak yang pintar atau kaya raya – bila tidak saleh – belum tentu memberi manfaat kepada kita baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga kita dikaruniai anak keturunan yang saleh dan salehah, yang mematuhi perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, pandai berbakti kepada kedua orang tuanya, rajin berbuat baik kepada sesamanya serta berguna bagi agama dan bangsanya. UNS.

Sumber bacaan:

Abu Al-Husain Muslim, Shahih Muslim, Kairo: Mathba’ah Isa Al-Baby Al-Halaby, 1374 H/ 1955 M, no. hadits 1631, jil III, hal. 1255.

Abu Zakaria Muhyiddin An-nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Araby, 1392 H, jil. XI, hal. 85.

Ibnu ‘Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunisia: Ad-Dar At-Tunisiyah, 1984, jil. XXIII, hal. 148.

Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, Dar Hajar, 1422 H/ 2001 M, jil. XIX, hal 577.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *