Inilah 3 Keunggulan Bulan Sya‘ban

Bulan Rajab telah lewat, kini umat muslim tengah berada di bulan Sya‘ban. Bulan yang menurut Rasulullah SAW kurang mendapat perhatian dari sebagian besar umat manusia. Padahal pada bulan ini terdapat beberapa keutamaan.

Bulan Sya‘ban adalah pintu gerbang untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Karena bulan Sya‘ban berada pada urutan ke-8 dalam kalender Hijriyah. Sedangkan bulan Ramadhan tepat berada setelahnya yaitu di urutan ke-9.

Setidak-tidaknya ada tiga keistimewaan bulan Sya‘ban sebagaimana dikabarkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW:

Pertama, Dianjurkan memperbanyak puasa

Sungguh, bagi kaum muslimin bulan Sya‘ban ini bisa menjadi ajang pemanasan ibadah puasa, sehingga ketika menjumpai bulan suci Ramadhan, baik secara fisik, mental dan spiritual sudah terlatih dan tidak lagi merasa berat.

Nabi SAW mencontohkan sendiri beliau banyak melaksanakan puasa sunnah di bulan Sya‘ban. Pengakuan Ibunda Aisyah RA yang diriwayatkan oleh imam Muslim menandaskan sebagai berikut:

.لَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ، أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ ‌شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ ‌شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَانَ يَصُومُ ‌شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunnah daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim)

Kesaksian Ibunda Aisyah RA tersebut memberi penegasan betapa seringnya Nabi SAW melaksanakan puasa sunnah di bulan Sya‘ban, dimana beliau berpuasa hampir sebulan penuh. Adakah contoh lain yang lebih laik untuk ditiru selain sosok Rasulullah SAW? Semoga kita gemar menunaikan sunnah-sunnah beliau.

Kedua, Diangkatnya amal perbuatan manusia

Dalam sebuah dialog singkat antara Usamah bin Zaid RA dan Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh imam Nasa’i disebutkan:

Baca Juga :  Sakit pun Bukti Kasih Sayang Allah

.قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ ‌شَعْبَانَ، قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Aku (Usamah bin Zaid) bertanya kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau banyak berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya‘ban? Nabi SAW menjawab: “Ia adalah bulan disaat manusia banyak yang lalai (dari beramal saleh); antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan disaat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunnah.” (HR. Nasa’i)

Diantara penjelasan mengenai maksud dari kata turfa‘ul fihi al-a‘mal yaitu diangkatnya catatan amal manusia yang dikerjakan selama setahun. Catatan amal manusia diperlihatkan kepada Allah SWT, baik berupa amalan baik ataupun amalan buruk. Penjelasan lainnya, bahwa catatan amal manusia diangkat kepada Allah beberapa kali, yaitu: harian, sesudah shalat subuh dan shalat ashar, pekanan, hari Senin dan Kamis, dan tahunan, bulan Sya’ban.

Ketiga, Ampunan di malam nisfu sya‘ban

Keunggulan berikutnya yaitu ampunan Allah pada malam pertengahan bulan Sya‘ban (nisfu Sya‘ban). Oleh karenanya pada malam tersebut umat muslim diimbau untuk meningkatkan amal ibadah dan memperbanyak istighfar guna menggapai magfirah-Nya. Hal ini ditegskan oleh baginda Rasulullah SAW dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah:

.إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ ‌شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah mengawasi seluruh makhluk-Nya di malam nisfu Sya‘ban, Dia juga mengampuni dosa semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan musyahin (orang yang berkelahi dan belum berdamai).” (HR. Ibnu Majah)

Baca Juga :  Mengapa Disunahkan Puasa 6 hari di Bulan Syawal?

Mudah-mudahan kita dapat mengoptimalkan ibadah di hari-hari bulan Sya‘ban yang penuh keberkahan. Dan semoga Allah menyampaikan kita ke bulan suci Ramadhan pada tahun ini. Wallahu Ta’ala A’lam. (UNS)

Sumber bacaan:

Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah, t.t., jil. II, no. hadits 1156, hal. 811.

Abu Abdirraman Ahmad bin Syu’aib bin Ali al-Khurrasani an-Nasa’i, as-Sunan ash-Shughra li an-Nasa’i, Halab: Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyah, 1406 H/ 1986 M, cet. II, jil. IV, no. hadits. 2357, hal. 201.

Abu Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwaini Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, t.tp. : Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, t.t., jil. I, no. hadits 1390, hal. 445.

Abu Bakar Muhammad bin Ishak bin Khuazimah, Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rabbi ‘Azza wa Jalla, Riyad : Maktabah ar-Rusyd, 1414 H/ 1994 M., cet. V, jil. I, hal. 47.

Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Birut: Dar al-Gharbi al-Islami, 1998, jil. II, no. hadits 747, hal. 114.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *