Melanjutkan Kebiasaan Baik Oleh-oleh Ramadhan

Ramadhan yang mulia telah pergi meninggalkan kita. Ia meninggalkan rasa senang dan sedih yang bercampur menjadi satu memenuhi ruang jiwa kita.

Senang karena kita telah berhasil menuntaskan kewajiban ibadah puasa. Tak hanya itu, kita juga (mudah-mudahan) telah mengantongi ganjaran dari serangkaian amal ibadah, baik amal personal maupun amal sosial.

Sedangkan sedih kita rasakan karena kita harus berpisah dengan tamu agung yang datang setahun satu kali, yang membuat kita giat dan semangat beramal saleh. Akankah kita bertemu dengannya tahun depan? Wallahu Ta’ala A’lam.

Sungguh hadirnya Ramadhan di tengah-tengah kita telah banyak memberi manfaat dan keberkahan. Salah satunya ialah Ramadhan telah membangun kebiasaan baik pada diri kita.

Dalam sebuah riset ilmiah dijelaskan untuk membangun kebiasaan baru atau mengubah kebiasaan lama diperlukan waktu lebih kurang 21 hari. Bulan Ramadhan berjumlah 29 atau 30 hari.

Maka, bagi kaum mukminin yang konsisten menunaikan amal ibadah sebulan penuh sedari awal hingga akhir Ramadhan, baik berupa ibadah puasa, shalat fardu, shalat malam, tadarus al-Qur’an, zakat, infak dan sedekah, zikir dan doa, dan lainnya, telah membentuk suatu kebiasaan baru.

Kebiasaan baik (oleh-oleh) Ramadhan inilah yang kita harapkan akan tetap langgeng di hari-hari pasca Ramadhan; selain menunaikan hal-hal yang wajib, kita tetap rajin puasa sunah, giat shalat sunah baik siang maupun malam, semangat zikir pagi dan petang, gemar bersedekah dan infak harian meskipun tidak banyak yang penting kontinu.

Allah SWT sendiri menyukai orang-orang yang kontinu dalam beramal. Sayidah Aisyah ra menuturkan, Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang amal apa yang paling disukai Allah? beliau menjawab, amal yang berkesinambungan meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra)

Baca Juga :  Tiga Pertanyaan sebagai Renungan

Oleh sebab itu, Rasulullah Saw. telah mencontohkan, apabila melakukan sesuatu amal, beliau lakukan secara terus menerus (istiqamah). Sebagaimana dikisahkan langsung oleh isteri beliau dalam hadits berikut ini:

كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ إذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ. رواه مسلم

Adalah Rasulullah Saw. apabila mengerjakan sesuatu amalan, beliau kerjakan dengan sempurna dan berkesinambungan. (HR. Muslim dari Aisyah ra)

Semoga Allah karuniakan kepada kita sifat istiqamah. Karena istiqamah dalam kebaikan merupakan salah satu tanda diterimanya amal oleh Allah SWT.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika beliau menjelaskan surah Al-Lail mengemukakan bahwa diantara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya, dan diantara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya. (NS)

Tasikmakaya, 06 Syawal 1443 H.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *