Sakit pun Bukti Kasih Sayang Allah

Bagi sebagian orang, sakit hanya dipandang sebagai ujian yang konotasinya tidak menyenangkan. Adakah yang salah dengan anggapan demikian? Saya pikir, tidak sepenuhnya keliru dan tidak seutuhnya benar. Karena memang, sakit mempunyai dua sisi, yaitu: ujian yang semestinya disikapi dengan sabar dan kasih sayang Allah yang seyogianya ditindak lanjuti dengan syukur.

Tentu memahami sakit sebagai ujian lebih mudah dicerna oleh akal kita dibanding memafhuminya sebagai kasih sayang Allah, karena pada dasarnya anak cucu Adam menyukai keadaan sehat dan mencicik kondisi sakit. Maka, tak heran ketika sewaktu-waktu kita jatuh sakit, yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita adalah ujian bukan kasih sayang Allah.

Sesungguhnya, asumsi bahwa ujian adalah segala sesuatu yang tidak menyenangkan semata disanggah oleh firman Allah berikut ini:

.كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [al-Anbiya/21: 35]

Abdullah bin Abbas r.a. menafsirkan ayat di atas: “Kami (Allah) akan mengujimu dengan kondisi susah dan senang; sehat dan sakit; kaya dan miskin; halal dan haram; taat dan maksiat; hidayah dan menyimpang.” [1] Maka, sebenarnya semua keadaan yang dialami oleh manusia, baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan adalah sama-sama ujian dari Allah.

Lalu bagaimana logika kita dapat memahami bahwa kondisi sakit adalah wujud kasih sayang Allah? Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengemukakan: “bukanlah termasuk orang yang faqih (paham agama) orang yang tidak menganggap ujian sebagai anugerah, dan (tidak memandang) kemakmuran sebagai musibah.” [2]

Baca Juga :  Keutamaan Puasa di Bulan Rajab

Bagi saya pernyataan beliau di atas amat menarik, suatu gagasan pemikiran yang kontra pemahaman mainstream masyarakat pada umumnya. Namun, untuk bisa mencerna makna di balik ungkapan tersebut memerlukan kejernihan hati dan kebeningan pikiran. Apabila kita resapi secara perlahan-lahan, ungkapan seorang ulama tabi’in di atas akan melahirkan suatu keyakinan bahwa kondisi sakit merupakan wujud kasih sayang Allah. Kok bisa?

Pertama, sakit meminta kita bersabar. Ketika sakit memang serba tidak nyaman, kondisi fisik tidak sehat, makan tidak nikmat, aktivitas tidak bebas. Suasana serba terbatas seperti itu menuntut kita bersabar dan gigih berikhtiar sehingga mampu melewatinya. Manakala kita mampu bersabar, maka Allah telah menjanjikan bagi kita pahala yang banyak. Mari kita renungkan firman Allah dalam surah az-Zumar/39: 10 yang artinya: “…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Ma syaa Allah. Bukankah memperoleh pahala yang unlimited merupakan anugerah Allah?

Kedua, sakit bisa menghapus dosa. Semua manusia tak luput dari dosa. Hanya para Nabi dan Rasul yang maksum dari kesalahan. Hadits Nabi riwayat imam Bukhari dan Muslim memberitahukan bahwa sakit dapat menggugurkan dosa, “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” [3] Bukankah dihapusnya dosa-dosa merupakan karunia Allah?

Ketiga, sakit dapat menaikkan derajat. Tak bisa dipungkiri, meningkatnya derajat di sisi Allah merupakan dambaan semua insan beriman. Sabda Rasulullah riwayat imam Muslim memberi kabar gembira bagi orang-orang yang sakit, “Tidak ada satupun musibah (cobaan) yang menimpa seorang muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” [4] Bukankah meningkatnya derajat di sisi Allah merupakan kasih sayang Allah?

Baca Juga :  Melanjutkan Kebiasaan Baik Oleh-oleh Ramadhan

Jadi, semua takdir Allah Azza wa Jalla untuk kita mengandung kebaikan dan kemaslahatan. Sakit yang menimpa kita bagian dari ketetapan Allah, selain merupakan ujian, sakit juga merupakan wujud kasih sayang Allah. Semoga kita semakian bersyukur atas segala karunia Allah, semakin bersabar dalam mengarungi ujian-Nya, dan semakin ridha atas segala ketentuan-Nya. Wallahu Ta’ala A’lam. (UNS)

Catatan kaki:

[1] Ibnu Jarir ath-Thabari, Jami’ al-Abayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, t.tp. : Dar Hajar, 1422 H/ 2001 M, cet I, jil. XVI, hal. 69.

[2] Abu Nuaim Ahmad al-Asbahani, Hilyat al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya, Mesir : As-Sa’adah, 1394 H/ 1974 M, jil. VII, hal. 55.

[3] Musa Syahin Lasyin, Fath al-Mun’im Syarh Shahih Muslim, t.tp. : Dar as-Syuruq, 1423 H/ 2002 M, cet. I, jil. 10, no. hadits 5707, hal. 35.

[4] Musa Syahin Lasyin, Fath al-Mun’im Syarh Shahih Muslim, t.tp. : Dar as-Syuruq, 1423 H/ 2002 M, cet. I, jil. 10, no. hadits 5710, hal. 35.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *