Tiga Pertanyaan sebagai Renungan

Manusia adalah makhluk Allah yang istimewa. Kehidupannya tidak berakhir dengan habisnya masa hidup di alam dunia. Akan tetapi, ia masih akan terus melanjutkan perjalanannya hingga sampai di terminal paling akhir yaitu negeri akhirat, di surga-Nya atau di neraka-Nya.

Nasib setiap manusia di akhirat kelak tergantung kepada cara hidup mereka di alam dunia. Apabila seseorang pandai dalam mengelola waktu dan kesempatan sehingga terisi dengan pelbagai amal saleh, maka patut optimis akan bernasib baik di alam baqa’. Sebaliknya, jika seseorang lalai dalam memanaj waktu yang disediakan Allah SWT sehingga terbuang sia-sia atau terisi dengan keburukan, maka nasib buruk akan menimpa dirinya kelak di alam tanpa batas waktu.

Tidak ada kata terlambat, selama hayat masih dikandung badan, tidak ada salahnya bila kita menata ulang kehidupan kita. Dari mana kita mulai menata diri? Bisa dengan merenungkan 3 pertanyaan mendasar. Pertama, sudah berapa lama kita berada di alam dunia? Kedua, berapa lama lagi kita akan berada di alam dunia? Ketiga, siapkah kita bila dipanggil Allah kapanpun dan di manapun kita berada?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, tidak terlalu sulit asalkan kita tahu tanggal lahir. Bilamana saat ini usia kita 40 tahun, artinya kita sudah menjalani kehidupan di dunia selama 40 tahun. Kita sudah mengemban tugas sebagai hamba Allah yang dituntut untuk melaksanakan perintah agama (ibadah) dan meninggalkan larangannya selama lebih kurang 25 tahun, karena dikurangi 15 tahun usia pra balig.

Sedangkan untuk menjawab pertanyaan kedua, akal kita sangat terbatas, tidak dapat mengakses informasi yang pasti dari gudang rahasisa Ilahi, berapa tahun lagi sisa usia kita. Hanya saja Rasulullah SAW pernah memberi kabar kalau usia rata-rata umatnya berkisar antara 60 hingga 70 tahunan.

Baca Juga :  Mengapa Disunahkan Puasa 6 hari di Bulan Syawal?

أعمارُ أمَّتي ما بينَ السِّتِّينَ والسَّبعينَ وأقلُّهم من يجوزُ ذلِكَ.) أخرجه الترمدي وابن ماجه عن أبي هريرة)

“Umur (rata-rata) umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahunan, sedikit sekali yang melampaui itu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Jadi, bila mau mengacu kepada sabda Nabi di atas, jawaban pertanyaan yang kedua tingga mengurangkan angka 60 atau 70 ke usia kita saat ini. Namun demikian sekali lagi ini bukan angka pasti mengingat ajal manusia adalah rahasia Allah. Bisa saja kurang dari itu atau lebih dari itu.

Adapun untuk menjawab pertanyaan ketiga, di hadapan kita hanya ada satu pilihan jawaban, yaitu: kita harus siap! Kenapa demikian, karena urusan kapan dan di mana ajal kita akan tiba adalah hak prerogatif Allah SWT. Ajal kita akan tiba tepat waktu tidak bisa maju atau mundur barang sesaatpun. Bukankah al-Qur’an telah memberitakan dalam surah al-A’raf/7: 34 yang artinya: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”

Jadi, poin penting dari tiga pertanyaan ini adalah agar kita tidak terlena dengan fatamorgana kehidupan dunia yang fana. Mari kita bergegas menuju ampunan Allah dan berlomba-lomba mengerjakan amal-amal saleh yang dapat menghantarkan diri kita kepada jannah-Nya.

Stop kelalaian kita dari menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Cukuplah nasihat Rasulullah SWT yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi berikut ini sebagai pengingat dalam menata ulang kehidupan di sisa usia kita.

لا تَزولُ قدمَا ابنِ آدمَ يومَ القيامةِ حتى يسُئِلَ عن خمسٍ : عن عمرِهِ فيمَ أفناهُ ، وعن شبابِهِ فيمَ أبلاهُ ، وعن مالِهِ من أين اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وماذا عَمِلَ فيما عَلِمَ.) أخرجه الترمذي عن عبد الله بن مسعود)

Baca Juga :  Inilah 3 Keunggulan Bulan Sya‘ban

“Tak akan bergerak kedua kaki anak cucu Adam pada hari kiamat sehingga ditanya tentang 5 perkara: tentang umurnya dihabiskan untuk apa? Masa mudanya digunakan untuk apa? Hartanya diperoleh dari mana? Dibelanjakan untuk apa saja? Dan apa yang telah diperbuat dengan ilmunya?” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud RA).

Mari kita tata ulang kehidupan kita. Hapus “file-file” dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Pelihara “file-file” kebaikan yang ada sehingga tidak terkena virus riya dan sum’ah yang menghanguskan. Perbanyak rencana amal saleh demi menggapai masa depan yang gemiang. (UNS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *