Menelaah Misi Peradaban dalam Doa Nabi Ibrahim

Disampaikan pada Khotbah Hari Raya Idul Adha 1443 H., Tanggal 10 Juli 2022 di Masjid An-Nur, Komplek Perumahan Grand Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Khutbah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. 

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ.

أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.

Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Di pagi hari yang penuh keberkahan ini, kita berhimpun di dalam masjid ini dalam rangka menunaikan ibadah salat Idul Adha tahun 1443 H. Sejak tadi malam kita gemakan takbir, tahlil, dan tahmid sebagai ikrar keimanan dan pengakuan atas keagungan Allah SWT.

Dari mimbar ini khatib mengajak segenap jamaah sekalian untuk terus meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT, dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah serta menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh-Nya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu

Jamaah Salat Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Idul Adha disebut sebagai Hari Raya Kurban, karena pada tanggal 10 Dzulhijjah umat Islam dianjurkan supaya menyembelih hewan kurban, salah satu amal ibadah yang erat kaitannya dengan peristiwa bersejarah yang melibatkan dua orang manusia mulia, yakni Nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Isamil as.

Selain itu, Idul Adha juga disebut sebagai Hari Raya Haji, sebab pada tanggal 10 Dzulhijjah ini jemaah haji sedang menunaikan serangkaian ibadah haji yang meliputi: mabit di Muzdalifah, melempar jumrah aqabah, tawaf ifadah, mencukur rambut, salat Id, dan menyembelih hewan kurban.

Berbicara tentang Hari Raya Idul Adha, tidak bisa dipisahkan dari sosok mulia, bapaknya para Nabi, yakni Nabi Ibrahim as, pribadi manusia yang amat menarik untuk kita tiru sifat dan karakternya dalam kehidupan. Di antara hal yang patut kita teladani adalah sifat beliau yang visioner. Apabila kita menelaah doa-doa yang dipanjatkan oleh beliau, maka kita akan menemukan gagasan-gagasan brilian terutama untuk membangun peradaban manusia.

Pada kesempatan ini khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk menelaah gagasan membangun peradaban yang terkandung dalam doa Nabi Ibrahim as dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Pertama, Membangun kesalehan personal dan sosial

Misi pertama Nabi Ibrahim as adalah membangun kesalehan personal dan sosial. Sekurang-kurangnya ada tiga hal utama yang diperlukan untuk merealisasikannya antara lain:

  1. Istikamah mendirikan salat
Baca Juga :  Jangan Sia-siakan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Hal ini sebagaimana tersurat dalam doa Nabi Ibrahim as berikut ini:

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ۝٤٠

Artinya: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim: 40)

Dalam ayat di atas, Nabi Ibrahim as memohon kepada Allah agar ia beserta anak keturunan beliau menjadi hamba Allah yang konsisten mendirikan salat. Mengapa secara khusus beliau memanjatkan permohonan ini? Sebab salat merupakan sarana spiritual paling utama untuk membentuk kesalehan personal maupun sosial. Sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT yang artinya: “…Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang yang mendirikan salat dengan baik dan benar akan memiliki kontrol diri yang baik, sehingga tidak serampangan dalam menjalani kehidupan.

  • Rajin menghapus dosa

Tidak ada manusia yang sempurna kecuali hamba-hama pilihan Allah yang maksum dari dosa. Setiap kita pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan, baik lengsung kepada Allah ataupun terhadap sesama manusia. Maka, Nabi Ibrahim as memberi teladan kepada kita, ia memohon ampunan kepada Allah atas dosa dirinya, orang tuanya bahkan saudara seiman. Hal ini sebagaimana dalam doa Nabi Ibrahim as berikut ini:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ۝٤١

Artinya: Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

Ayat di atas mengisyaratkan agar kita rajin menghapus dosa karena dosa adalah beban kehidupan di dunia maupun di akhirat. Sebelum ajal tiba, seyogianya kita menyucikan jiwa dan menghapus dosa yang melekat dalam diri kita.

  • Tunduk dan patuh pada aturan Allah

Hal ini sebagaimana tersurat dalam doa Nabi Ibrahim as berikut ini:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ۝١٢٨

Artinya: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 128)

Dalam ayat di atas, Nabi Ibrahim as memohon supaya ia, anak keturunan, serta umatnya menjadi hamba-hamba Allah yang berserah diri kepada Allah. Kata muslim (مُسْلِمٌ) dalam bahasa Arab mengandung beberapa makna antara lain: orang yang berserah diri, yang tunduk, yang patuh, dan lainnya.

Sifat berserah diri, tunduk, dan patuh ini sangat diperlukan dalam pembentukan karakter seseorang supaya menjadi pribadi yang saleh. Ketundukan dan kepatuhan pada aturan-aturan Allah merupakan keniscayaan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Bahkan, Allah SWT berwasiat agar kita tidak mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam surah Ali Imran ayat 102 yang maknanya:. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Baca Juga :  Perubahan Diri dan Sosial Tumbuh dari dalam Kaum yang Solid

Kedua: Membangun Generasi Unggul

Misi peradaban Nabi Ibrahim as yang berikutnya adalah membangun generasi unggul. Hal ini terefleksikan dalam doanya berikut ini:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ۝١٠٠

Artinya: (Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.” QS. ash-Shaffat: 100)

Kata shâlih (صَالِحٌ) dalam bahasa Arab memiliki banyak makna antara lain: yang baik, yang bagus, yang saleh, yang alim, yang benar, yang betul, yang lurus, yang mendatangkan kemaslahatan/kebaikan, yang bermanfaat, yang berguna, yang laik, yang layak, yang patut, dan sebagainya.

Mengacu kepada makna leksikal di atas, maka doa Nabi Ibrahim dala ayat di atas bukan tanpa maksud, akan tetapi ini punya obsesi besar ke depan, beliau ingin menyiapkan generasi yang unggul dan siap memikul beban-beban hidup yang bukan hanya untuk kemasalahatan pribadi semata, akan tetapi untuk kebaikan umat manusia.

Sejarah telah mencatat bahwa doanya tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. Terbukti bahwa anak keturunan beliau banyak yang menjadi utusan Allah, antara lain: Nabi Ismail as, Ishak as, Syu’aib as, Ilyas as, Yusuf as, Ayyub as, Dzulkifli as, Musa as, Zakaria as, Yahya as, Harun as, Ilyasa as, Daud as, Sulaiman as, Yunus as, Isa as, hingga Nabi Muhammad saw. Maka, layaklah beliau mendapat julukan abu al-Anbiya (ayahnya para Nabi).

Ketiga: Membangun Bangsa dan Negara

Misi peradaban Nabi Ibrahim yang berikutnya adalah membangun bangsa dan negara yang aman dan makmur. Hal ini terefleksikan dalam doa beliau berikut ini:

 وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ۝۳٥

Artinya: (Ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala. (QS. Ibrahim: 35)

Berdasarkan ayat di atas, ada dua hal yang substansial dalam doa Nabi Ibrahim as, yaitu: 1) menjadikan Mekah sebagai negeri yang aman, 2) membebaskan ia dan keturunannya dari kesyirikan.

Sedangkan dalam ayat lain, Nabi Ibrahim as juga memohon kepada Allah agar Dia berkenan menganugerahkan kemakmuran penduduknya. Sebagaimana terkandung dalam firman Allah berikut ini:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ۝١٢٦

Artinya: (Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Berdasarkan ayat di atas, Nabi Ibrahim as selain berdoa agar Allah menjadikan Mekah sebagai negeri yang aman sentosa, juga memohon agar penduduknya dilimpahkan rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) oleh manusia.

Baca Juga :  Salat Sebagai Wahana Segala Kebaikan

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Mencermati doa-doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim di atas, betapa agungnya sosok beliau, pribadi yang bukan hanya berpikir untuk dirinya sendiri, atau keluarganya semata, akan tetapi beliau adalah seorang negarawan yang visioner.

Mudah-mudahan kita dapat mencontoh Nabi Ibrahim as khususnya dalam visi dan misi beliau dalam membangun peradaban umat manusia. Mari kita mulai dengan membangun kesalehan diri, keluarga, dan masyarakat. Kemudia kita persiapkan generasi unggul pelanjut estafeta perjuangan ke depan, generasi yang berguna dan mendatangkan kemaslahatan untuk bangsa dan negara,  siap berjuang mewujudkan cita-cita luhur para pendiri bangsa ini, dalam bingkai nilai-nilai agama, UUD 45, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Demikian khutbah Idul Adha yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat untuk kita semua khususnya yang hadir di dalam masjid yang in syaa Allah diberkahi oleh Allah SWT ini. (NS)

 بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.  اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *