Perubahan Diri dan Sosial Tumbuh dari dalam Kaum yang Solid

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْـدُ،

فَيَا أَيُّهَا الـمُؤْمِنُوْنَ أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Hadirin sidang Jumat yang in syaa Allah dirahmati Allah.

Puji dan syukur mari kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan karunia-Nya untuk kita semua.

Selawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita baginda Rasulullah Muhammad saw., kepada keluarganya, sahabatnya, beserta umatnya yang setia dan istikamah menjejaki sunahnya hingga akhir zaman.

Hadirin sidang Jumat yang in syaa Allah dirahmati Allah.

Kita hidup di era disrupsi. Era dimana terjadinya inovasi, kreasi dan perubahan besar-besaran secara fundamental yang mengubah semua tatanan yang ada ke cara-cara baru. Peralihan masif ini tidak bisa dipisahkan dari adanya revolusi 4.0, iklim, dan pandemi Covid-19.

Kini teknologi digital tampak mulai lebih dinikmati oleh masyarakat. Sebagai contoh, penyampaian informasi yang biasanya dilakukan secara konvensional beralih ke cara-cara digital. Maka, fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi para penyedia jasa ataupun barang yang biasanya dipasarkan secara konvensional untuk beralih secara bertahap ke model digital.

Hadirin sidang Jumat yang in syaa Allah dirahmati Allah.

Islam telah meletakkan beberapa prinsip perubahan, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah berikut ini :

لَه مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِه يَحْفَظُوْنَه مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَه ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِه مِنْ وَّالٍ ۝١١

Artinya: Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’du: 11)

Baca Juga :  Salat Sebagai Wahana Segala Kebaikan

Imam Fakhruddin ar-Razi menerangkan bahwa maksud ayat di atas yaitu Allah SWT tidak akan mengubah karunia (kemakmuran) yang diberikan kepada suatu kaum menjadi azab (kesengsaraan) kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan kerusakan yang mereka lakukan.

Senada dengan ayat di atas dalam surah Al-Anfal ayat 53 disebutkan :

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ ۝٥۳

Artinya: Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anfal: 53)

Menurut penafsiran imam Ibnu Katsir ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT memberitahukan keadilan hukum-Nya, dimana Dia tidak mengubah suatu nikmat yang telah diberikan kepada suatu kaum melainkan karena dosa yang mereka lakukan.

Merujuk pada penjelasan dua mufasir di atas dapat dipahami bahwa perubahan sosial yang dimaksud dalam dua ayat tersebut adalah transformasi sosial dari hal positif (kemakmuran) kepada hal negatif (kesengsaraan). Peralihan ini terjadi karena perilaku masyarakat yang tidak patuh kepada Allah SWT dan terbiasa melakukan kemaksiatan dan kerusakan.

Meskipun demikian, dari ayat di atas juga dapat dipahami hal sebaliknya, bahwa kesengsaraan dapat diubah oleh masyarakat dengan melakukan perubahan (perilaku) sosial menuju kemakmuran melalui kepatuhan kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah berikut ini:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ۝٩٦

Artinya: Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al-A’raf: 96)

Menurut penjelasan imam ats-Tsa’labi makna ayat di atas, sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa yakni mengesakan Allah serta mematuhi (perintah)-Nya niscaya Allah akan membukakan keberkahan untuk mereka berupa hujan yang turun dari langit dan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari bumi.

Baca Juga :  Menelaah Misi Peradaban dalam Doa Nabi Ibrahim

Hadirin sidang Jumat yang in syaa Allah dirahmati Allah.

Syaikh Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris menyebutkan tiga kaidah perubahan, yaitu: pertama, perubahan merupakan hukum general yang meliputi semua jenis dan ras manusia, baik orang mukmin atau bukan mukmin; kedua, perubahan yang berdampak dan dituntut dalam konsep Islam adalah perubahan kolektif yang mencakup mayoritas lingkungan sosial; ketiga, perubahan itu ada kalanya positif dan ada kalanya negatif.

Kita, umat muslim sejatinya lebih berhak untuk mengambil ibrah dan hikmah yang terkandung dalam Al-Qur’an sebelum lainnya. Maka, bangsa Indonesia sebagai bangsa muslim terbesar di dunia hendaknya tampil terdepan dalam merespons perubahan-perubahan yang terjadi pada zaman ini, bila kita tidak mau tertinggal jauh oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Untuk melakukan transformasi menurut ketua umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof. Arif Satria memerlukan tiga syarat, yaitu: pertama, pola pikir future practice (praktik ke depan) bukan best practice (praktik terbaik); kedua, pola pikir growth mindset (mau bertumbuh dan berkembang) bukan fixed mindest; ketiga, agile learner (pembelajar lincah, cepat, dan tangkas).

Hadirin sidang Jumat yang in syaa Allah dirahmati Allah.

Islam adalah agama yang mengajarkan perubahan. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik. Islam mendorong umatnya supaya melakukan perubahan secara kolektif bukan hanya secara personal, karena perubahan yang dilakukan secara massal dampak baik yang dihasilkan akan lebih besar dan luas.

Perubahan itu dapat bermula dari diri dan keluarga. Jika setiap keluarga sama-sama melakukan perubahan, maka dengan sendirinya transformasi sosial itu akan hadir di kehidupan masyarakat. Kemudian supaya perubahan itu terjadi secara kontinu, maka satu sama lain saling menguatkan dan mengokohkan guna mencapai kebaikan bersama. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh baginda Rasulullah saw dalam sabdanya berikut ini :

الـمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. (رواه البخاري ومسلم عن أبي موسى الأشعري)

Artinya: Orang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari ra)

Akhirnya, semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang berhasil melakukan perubahan ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan demi kebaikan diri, keluarga, agama dan bangsa yang kita cintai. (NS)

Baca Juga :  Jangan Sia-siakan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ  فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ الـمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَه.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهَا الـمُؤْمِنُوْنَ أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا

اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّونَا صِغَارًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالاِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَي وَيَنْهَي عَنِ الفَحْشَاءِ وَالـمُنْكَرِ وَالبَغْيِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر

Sumber Bacaan

Ar-Razi, Fakhruddin. (1420). Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi.

Ats-Tsa’labi. (2002). Al-Kasyfu wa al-Bayan ‘an Tafsir al-Qur’an. Beirut: Ihya at-Turats al-’Arabi.

Ibnu Katsir. (1999). Tafsir Al-Qur’an al-’Azim. Dar Thayibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’.

Satria, Arif. (2021). Pesan Rektor: Mindset Baru untuk Transformasi. Bogor: IPB Press.

Syani, Abdul. (2007). Sosiologi Sekematik, Teori dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara.

2 thoughts on “Perubahan Diri dan Sosial Tumbuh dari dalam Kaum yang Solid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *