Salat Sebagai Wahana Segala Kebaikan

Materi khutbah ini menjabarkan tentang salat sebagai kewajiban harian umat Islam serta pengaruhnya terhadap mentalitas mereka terutama sebagai self control (pengendalian diri) dan wahana segala kebaikan.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا، وَدَبَّرَ عِبَادَهَ عَلَى مَا تَقْتَضِيْهِ حِكْمَتُهُ وَكَانَ بِهِمْ لَطِيْفًا خَبِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْـمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَكَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ وَبَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتِابِهِ الْعَزِيْزِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Salat merupakan salah satu kewajiban harian umat Islam. Kewajiban salat secara tekstual ditandaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “…Sungguh salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q.S. an-Nisa’, 4:103).

Selain sebagai ibadah rutin, salat juga diindikasikan memiliki fungsi sebagai pengendalian diri. Hal tersebut merujuk pada salah satu ayat dalam Al-Quran berikut ini:

اُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. (العنكبوت: 45)

Artinya: Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Ankabut, 29:45)

Berdasarkan penjelasan Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir, kata kerja (تَنْهَىٰ) tanha pada ayat di atas dimaknai secara majas, yakni mengiaskan sesuatu yang terkandung dalam salat dengan sesuatu yang dapat mencegah. Titik persamaannya adalah salat meliputi ucapan dan gerakan yang dapat menyadarkan dan mengingatkan orang yang sedang salat kepada Allah, dimana ucapan dan gerakan tersebut mencegahnya dari melakukan apa yang tidak diperkenankan Allah. Dengan kata lain, salat yang dikerjakan secara rutin dengan penuh penghayatan bisa berfungsi menjadi pengendali diri (self control) dari melakukan perbuatan yang dimurkai Allah SWT.

Kemampuan pengendalian diri ini diperoleh seseorang ketika ia harus menjalani salat lima waktu secara kontinu setiap hari sejak akil balig sampai akhir hayat. Sebagaimana diketahui, ada tiga tahapan yang dilalui oleh orang yang melaksanakan ibadah salat. Pertama: sebelum salat yaitu bersuci dari hadas kecil dan besar. Kedua: saat pelaksanan salat yaitu mengucapkan serangkaian bacaan dan melakukan serangkaian gerakan salat yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ketiga: sesudah salat yaitu berzikir bakda salat. Tentu, semua tahapan tersebut terikat dengan aturan yang ketat, mulai dari waktu pelaksanaan hingga syarat dan rukunnya yang harus dipenuhi.

Baca Juga :  Jangan Sia-siakan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Sesungguhnya untuk bisa konsisten menunaikan salat secara terus-menerus selama hayat dikandung badan, mutlak diperlukan kemampuan mengendalikan diri, baik kemampuan menepis godaan kemalasan, menghindari ketergesa-gesaan, menjaga kekhusyukan, menyesuaikan pekerjaan dengan waktu-waktu salat, dan lain sebagainya. Ketika rutinitas salat ini ditunaikan dengan sempurna, maka self control seseorang akan semakin kuat. Dengan semikian, tingkah laku seseorang akan terkontrol dan senantiasa berada dalam lingkaran kebaikan. Pada saat yang bersamaan ia akan tercegah dari melakukan dosa-dosa dan kemungkaran.

Orang yang terbiasa melaksanakan shalat dengan baik, dia terlatih self control-nya. Shalat tersebut bentul-betul menjadi aktivitas spiritual yang penting dalam hidupnya, bukan sekedar ucapan dan gerakan. Rasulullah saw menjelaskan bahwa salat menjadi tolok ukur amal seseorang, sebagaimana diisyaratkan dalam sabdanya berikut ini:

أوَّلُ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ الصَّلاةُ فإنْ صلَحَتْ صلَح له سائرُ عمَلِه وإنْ فسَدَتْ فسَد سائرُ عمَلِه. (رواه الطبراني عن أنس بن مالك)

Artinya: sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat, apabila baik salatnya, maka baik pula amal-amal lainnya, dan apabila rusak salatnya, maka rusak pula amal-amal lainnya. (HR. Thabrani dari Anas bin Malik ra).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Orang yang memiliki self control yang kuat hidupnya lebih terarah dan konsisten mengerjakan amal saleh yang melahirkan kemanfaatan, baik untuk dirinya sendiri serta orang banyak. Sehingga rutinitas salat yang dilaksanakan dengan sempurna dan penuh kekhusyukan akan menjadi wahana segala kebaikan, menuntun seseorang menuju keberhasilan hidup di dunia dan akhirat.

Menurut Roy Baumeister, ahli di bidang psikologi sosial, self control memiliki fungsi penting dalam mengarahkan individu supaya hidup sehat, meraih kesuksesan, dan memperoleh kepuasan dalam hidup. Senyatanya kebaikan yang selalu didambakan oleh semua orang berakar pada tiga hal tersebut, yakni: kesehatan, kesuksesan, dan kepuasan hidup.

Pertama, kesehatan merupakan karunia Allah terbesar sesudah nikmat iman (tauhid). Sebab dalam keadaan sehat seseorang dapat mengerjakan pelbagai kebajikan tanpa hambatan jasmani. Berbeda halnya kala kondisi sakit, maka ruang lingkup serta kesempatan ibadah pun akan sangat terbatas karena tuntutan keadaan. Oleh karenanya Rasulullah saw menganjurkan supaya memohon kepada Allah nikmat sehat dalam hadis berikut ini :

سَلُوا اللهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِيْنِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ)

Artinya: mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan, karena sesungghnya seseorang tidak diberi sesuatu yang lebih baik setelah (nikmat) iman selain (nikmat) kesehatan. (HR Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Bakar ra.)

Salat itu sendiri sangat erat kaitannya dengan kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Hal ini salah satunya dijelaskan dalam sebuah jurnal penelitian yang menjelaskan bahwa gerakan dan posisi dalam salat banyak memberikan manfaat untuk kesehatan. Contoh dalam posisi sujud.  Menurut penelitian Prof. Dr. Wan Azman, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit pada posisi sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh tanah. Ini tentunya memberikan rasa rileks dan kenyamanan. Hal ini disebabkan aliran darah yang membawa oksigen secara otomatis masuk ke dalam pembuluh-pembuluh darah otak kita kemudian pengalirannya terjadi sampai ujung-ujung pembuluh darah kapiler, yang membuat otak lebih fresh (kejadian ini hanya akan kita dapati ketika bersujud).

Baca Juga :  Menelaah Misi Peradaban dalam Doa Nabi Ibrahim

Kedua, kesuksesan merupakan harapan semua orang. Bagi umat muslim kesuksesan hidup yang didambakan tak hanya kesuksesan duniawi, akan tetapi juga kesuksesan ukhrawi. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut ini:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. (البقرة: 201)

Artinya: Dan di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.S. al-Baqarah, 2:201).

Lalu apa kaitannya salat dengan kesuksesan? Dalam sebuah riwayat diisyaratkan bahwa orang yang salatnya bagus, hidupnya bagus, dunia maupun akhirat. Dengan kata lain kualitas salat berpengaruh pada masa depan seseorang di hari kiamat. Sebagaimana dinyatakan dalam sabdanya:

إنَّ أوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ. (رَوَاهُ التِّرْمِذِيْ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ)

Artinya: sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Apabila baik salatnya dia beruntung dan berhasil, apabila rusak salatnya dia menyesal dan merugi. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah ra)

Ketiga, kepuasan dalam semua babak perjalanan hidup merupakan keinginan setiap insan. Kendatipun demikian, nyaris tidak ada jalan hidup manusia yang lurus tanpa rintangan dan hambatan, mesti ada saja aral melintang dan batu ujian yang harus dihadapi. Disinilah self control diperlukan, ia akan menuntun seseorang melintasi setiap episode kehidupan dengan sikap sabar dan syukur, sabar saat menghadapi ujian dan cobaan, syukur kala memperoleh kesenangan dan kegembiraan.

Menurut Alston dan Dudley (dalam Hurlock, 1980), kepuasan hidup merupakan kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman-pengalamannya yang disertai dengan tingkat kegembiraan. Maka, kebahagiaan bersifat jangka pendek (short term) sementara kepuasan hidup bersfiat jangka panjang (long term).

Secara umum, manusia akan mereview hidupnya secara berkala, dan secara keseluruhan di usia tua. Ketika seseorang meninjau sebagian atau keseluruhan hidupnya, lalu menemukan bahwa dirinya banyak menghidari hal negatif, kemudian memperbanyak hal positif sebagai hasil dari pengendalian diri, maka ia akan hidup di masa tua dengan rasa puas. Dia tidak merasakan banyak penyesalan. Begitupun saat ia bertemu dengan Tuhannya di akhirat kelak.

Baca Juga :  Perubahan Diri dan Sosial Tumbuh dari dalam Kaum yang Solid

Orang yang salatnya baik akan kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang dan hati yang ridha. Sementara manusia yang salatnya rusak akan mengalami penyesalan yang tiada arti dan kerugian yang nyata.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Mari melihat kembali kualitas salat kita, sudahkah salat kita berfungsi sebagai wahana segala kebaikan dan membentengi diri kita dari keburukan dan kemungkaran? Mudah-mudahan seiring dengan bertambahnya usia, salat kita semakin bermutu di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Sahabat mulia Salman al-Farisi ra. sebagaimana dinukil oleh Abdullah bin al-Mubarak mengemukakan bahwa salat adalah takaran, barangsiapa yang menunaikannya dengan sempurna, maka ia akan pahala yang sempurna. Tetapi barangsiapa yang mengurangi, maka engkau sudah tahu apa yang difirmankan Allah dalam surah al-Muthaffififin.

Demikian khutbah singkat yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat khususnya bagi kita semua yang sama-sama hadir di forum Jum’at ini. (NS)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكم، وَلَذِكرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *