Angka Rata-rata Usia Umat Rasulullah SAW

Ajal merupakan sunatullah yang berlaku bagi seluruh umat manusia. Dalam arti kita tidak akan hidup di alam dunia untuk selama-lamanya. Pada waktu yang telah ditentukan-Nya kita akan pergi meninggalkan kehidupan dunia yang pada hakikatnya hanyalah kesenangan yang memperdaya. [1]

Lebih dari empat belas abad yang lalu baginda Rasulullah SAW telah menginformasikan angka rata-rata usia umatnya. Mari kita telaah dengan seksama hadits berikut ini:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ » رواه ابن حبان عن أبي هريرة [2] »

“Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 hingga 70 tahunan, jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.” HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban

Jumlah usia yang dikabarkan oleh baginda Nabi SAW dalam hadits di atas selaras dengan realitas hari ini. Mnurut data administrasi kependudukan dan sensus penduduk 2020, diketahui bahwa dari 270-an juta populasi negara Indonesia, warga yang berusia 70 tahun ke atas jumlahnya minoritas yakni  3,4 persen saja dari total penduduk. [3]

Berapa tahun usia kita hari ini? Sejatinya semakin bertambah usia kita berkuranglah kuota hidup kita di alam dunia. Berkenaan dengan hal ini begitu indah imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah menuturkan:

ابْنَ آدَمَ، ‌إِنَّمَا ‌أَنْتَ ‌أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ »  [4] »

“Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.”

Ada hal yang lebih penting dari sekedar mengetahui rata-rata usia umat Rasulullah SAW, yaitu bagaimana cara memanfaatkan usia yang relatif singkat ini sehingga produktif menghasilkan pahala kebaikan sebagai tabungan kita di akhirat kelak.

Baca Juga :  Ketika Doa Memantul Kepada Kita

Semoga Allah selalu memberi bimbingan kepada kita agar mampu mengisi hari-hari yang sedang dan akan dilalui dengan beragam kegiatan yang mengandung kebaikan di dunia dan akhirat, baik untuk diri, keluarga maupun orang banyak.

Hari kemarin yang telah berlalu kita evaluasi, hari ini kita jalani dengan penuh ketulusan dan harapan, dan hari esok yang belum pasti kita temui kita persiapkan dengan pelbagai rencana kebaikan. UNS

Catatan kaki :

[1] Lihat surah Ali Imran/3: 185 dan surah al-Hadid/57: 20.

[2] Ibnu Hibban, al-Ihsân fi Taqrîb Shahîh Ibn Hibbân, Beirut: Muassasah ar-Risâlah, 1408 H/ 1988 M, no. hadits 2980, jilid VII, hal. 246. Lihat juga: Abu Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Mesir: Syarikat Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa Al-Babi al-Halabi, 1395 H / 1975 M, no. hadits 3550, jilid V, hal. 553.

[3] BPS, Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, https://www.bps.go.id/indikator/indikator/view_data_pub/0000/api_pub/YW40a21pdTU1cnJxOGt6dm43ZEdoZz09/da_03/1, diakses pada Ahad, 16 Januari 2022.

[4] [Abu Nu‘aim al-Ashbahâni, Hilyat al-Auliyâ wa Thabaqât al-Ashfiyâ, Beirut: Dâr al-Kitâb al-’Arabi, 1394 H/1974 M, Jil II, hal. 148.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *