Bercermin pada Kaum Saba’

“Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba [34] : 15)

Tersebutlah di sebuah wilayah (Yaman saat ini), terdapat suatu kerajaan Saba’ yang diperkirakan ada pada abad ke-9 SM, dipimpin oleh seorang ratu yang bijaksana bernama Balqis. Saking fenomenalnya kisah ini, Al-Qur’an menceritakannya sebagai salah satu tanda kebesaran Allah sekaligus ibrah bagi umat manusia yang hidup setelahnya.

Menurut Ibnu Asyur, bukti kebesaran Allah yang dimaksud adalah tempat kediaman kaum Saba’ dan sistem ketatanegaraannya.[1] Ath-Thabari menyebutkan, bahwa keunggulan tempat kediaman mereka yaitu terdapat dua bidang kebun luas dan subur yang menghasilkan aneka macam buah dan sayuran.[2] Karena sangat suburnya kebun tersebut, Qatadah dan Ibnu Zaid melukiskan, apabila ada seseorang yang masuk ke dalam kebun itu dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar dari kebun tersebut, keranjang itu akan penuh dengan buah-buahan tanpa harus memetiknya.[3]

Alangkah sejahtera dan makmurnya kaum Saba’. Mereka diberikan karunia berupa negeri yang nyaman (baldatun thayyibatun). Kenyamanan tersebut digambarkan oleh Ibnu Katsir, udaranya yang sejuk dan sehat, serta hidup dalam pemeliharaan Allah SWT, sampai-sampai di sana tidak ditemukan lalat, nyamuk, kutu, ataupun hama.[4] As-Sa’di melengkapi penjelasan Ibnu Katsir, bahwa negeri Saba’ dipenuhi dengan rezeki yang melimpah, kondisi lingkungan yang aman, tak ada ketakutan, serta jalinan komunikasi yang lancar di antara mereka.[5] Maka, para utusan Allah mengingatkan mereka supaya mensyukuri karunia Allah yang begitu besar tersebut dengan cara taat dan patuh atas perintah-Nya sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qurthubi.[6]

Baca Juga :  Berobat dengan Al-Qur'an

Namun, sangat disayangkan, setelah mereka sempat mengikuti seruan para Rasul, dimana ratu Balqis beserta kaum Saba’ beriman kepada Allah bersama nabi Sulaiman as, lalu mereka kembali berpaling dari Allah, tidak beribadah kepada-Nya, dan tidak bersyukur. Lantaran itu, Allah turunkan bencana kepada mereka berupa banjir besar akibat jebolnya bendungan Ma’rib yang menurut sebagian riwayat disebabkan oleh tikus.

Amat menarik untuk kita renungi kisah kaum Saba’ di atas. Negeri yang subur makmur bila tidak disyukuri dan dirawat dengan baik akan Allah ganti dengan bencana. Na’udzu billah. Kita pun teringat dengan negeri kita sendiri, Indonesia tercinta, yang kini berusia 77 tahun. Orang bilang, negeri ini adalah zamrud khatulistiwa. Ada juga peribahasa, negeri ini Gemah Ripah Loh Jinawi, sebagai ungkapan yang berarti banyak penduduknya dan subur makmur berlimpah-limpah.

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan mensyukuri karunia Allah, berkarya nyata untuk kemaslahatan bangsa, dan menjauhi segala perbuatan yang mengundang murka Allah Azza wa Jalla. Merdeka! (NS)

Jakarta, 17 Agustus 2022

Catatan kaki:

[1] Ibnu ‘Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunisia: Ad-Dar At-Tunisiah li An-Nasyr, 1984, jil. XXII, hal. 165-166.

[2] Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami Al-Bayan ‘an Ta’wili Ayi Al-Qur’an, Mekah: Dar At-Tarbiyah wa At-Turats, t.t., jil. XX, hal. 376-377.

[3] Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkam Al-Qur’an, Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyah, 1964, jil. XIV, hal. 284.

[4] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1419 H, jil. VI, hal. 448.

[5] Abdurrahman bin Nashir bin Abdurrahman As-Sa’di, Taisir Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, t.tp: Muassasah Ar-Risalah, 2000, jil. I, hal. 677.

Baca Juga :  Muharram Adalah Bulan Mulia

[6] Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkam Al-Qur’an, Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyah, 1964, jil. XIV, hal. 284.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *