Berobat dengan Al-Qur’an

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al-Isra: 82)

Kesembuhan itu berasal dari Allah

Meyakini bahwa kesembuhan itu berasal dari Allah SWT adalah bagian dari akidah Islam. Mempercayai bahwa Allah adalah satu-satunya Penyembuh, sementara dokter, tabib, terapis, atau siapapun yang berkeahlian membantu proses penyembuhan penyakit bukanlah penyembuh yang sebenarnya, melainkan hanyalah sebagai perantara kesembuhan.

Faktanya, tidak semua orang yang berobat (medis atau non medis) memperoleh kesembuhan. Ada yang sembuh dan ada pula  yang tetap sakit, bahkan ada juga yang sakit hingga berujung kematian. Inilah bukti bahwa kesembuhan adalah hak Allah, kewajiban kita hanyalah berusaha maksimal, selebihnya Allah yang menetapkan. Itulah mengapa Rasulullah SAW mengajarkan kita sebuah doa ketika menjenguk orang sakit:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أذْهِبِ البَاسَ، واشْفِهِ وأَنْتَ الشَّافِي، لا شِفَاءَ إلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Engkau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Engkau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA] [1]

Dua jalan kesembuhan

Apabila kita menelisik ayat-ayat Al-Qur’an, akan didapati dua jalan untuk memperoleh kesembuhan, yakni dengan Al-Qur’an itu sendiri dan dengan obat. Allah SWT mengulang kata (شفاء) syifa’ dalam Al-Qur’an sebanyak 4 kali, yaitu: QS Yunus/10: 57, QS An-Nahl/16: 69, QS Al-Isra/17: 82, dan QS Fushilat/41: 44.

Menariknya, tiga dari empat ayat di atas menjelaskan tentang jalan kesembuhan dengan Al-Qur’an. Hanya satu ayat yakni surah An-Nahl/16: 69 yang menerangkan tentang jalan kesembuhan dengan madu (obat selain Al-Qur’an). Katakanlah jika kesembuhan itu 100 persen, 75 persen adalah kesembuhan dengan Al-Qur’an, dan 25 persen dengan obat. Wallahu Ta’ala A’lam.

Bertolak dari sini, seyogianya seorang mukmin yang mengimani Al-Qur’an, mestilah meyakini juga Al-Qur’an sebagai syifa’ dan tidak mengabaikan Al-Qur’an sebagai upaya penyembuhan. Terutama ayat-ayat yang sangat bermanfaat untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit tertentu, baik dengan cara membacanya, menusliskannya atau dibacakan (mendengar).

Baca Juga :  Bertakwa hingga Akhir Hayat

Meski pada kenyataannya, di abad modern seperti sekarang ini, kebanyakan orang lebih bergantung pada cara penyembuhan dengan obat-obatan (kimia, herbal, dll), yang dalam Al-Qur’an hanya 25 persen saja, dibandingkan jalan penyembuhan dengan Al-Qur’an yang 75 persen.

Menempuh jalan kesembuhan melalui Al-Qur’an

Imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah dalam kitab Zad al-Ma’ad mengemukakan bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh sempurna dari berbagai penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. [2] Pandangannya ini didasari oleh surah Al-Isra/17: 82 yang berbunyi:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al-Isra: 82)

Memang, kata syifa’ dalam ayat di atas memiliki ragam penafsiran. Menurut imam Al-Qurthubi ada dua interpretasi untuk kata syifa’ dalam ayat tersebut, yaitu: pertama: Al-Qur’an menjadi terapi bagi jiwa seseorang yang dalam kondisi kebodohan dan keraguan, serta membuka penutup hati dari kebodohan dalam memahami keagungan Allah, kedua: Al-Qur’an dapat menjadi terapi untuk menyembuhkan penyakit jasmani dengan cara ruqyah atau lainnya. [3] Penafsiran yang kedua inilah yang dijadikan pijakan oleh imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam hal pengobatan, Rasulullah SAW sendiri menggunakan tiga cara yaitu : al-adwiyah ath-thabi’iyah (pengobatan alami natural), al-adwiyah al-Ilahiyah (pengobatan Ilahi), dan al-murakkab min al-amrain (gabungan keduanya). [4]

Pengalaman kaum muslimin terdahulu berobat dengan Al-Qur’an

Dalam kitab Zadul ma’ad disebutkan, [5] bahwa di antara cara pengobatan dengan Al-Qur’an yang pernah dilakukan oleh kaum muslimin terdahulu adalah dengan menuliskan ayat pada kertas, lalu dicelupkan ke dalam air, kemudian airnya diminum.

Baca Juga :  Memungut Mutiara dari Samudra Al-Fatihah

Contoh lainnya, bagi ibu hamil yang mengalami kesulitan saat melahirkan, dengan menuliskan ayat 1-5 dari surah Al-Insyiqaq pada suatu bejana yang bersih, kemudian airnya diminum oleh ibu hamil tersebut dan sebagiannya dipercikan ke arah perutnya.

Sedangkan bagi yang menderita penyakit mimisan, syaikh Ibnu Taimiyah pernah menuliskan ayat 44 dari surah Hud pada dahinya, atas kehendak Allah penyakitnya sembuh.

Sementara itu, bagi yang sedang menderita sakit gigi, dengan menuliskan ayat 23 dari surah al-Mulk atau ayat 13 dari surah Al-An’am diletakkan pada pipi yang sakit.

Bahkan, bagi yang sedang menderita penyakit abses (bisul), dengan menuliskan ayat 105-107 dari surah Thaha dan letakkan pada bagian tubuh yang ada absesnya.

Memperkuat keyakinan kepada Allah

Menjalani pengobatan dengan Al-Qur’an merupakan suatu cara yang juga dilakukan oleh Rasulullah saw. Sebagai seorang muslim, sepatutnya kita tidak berlepas diri dari pengobatan dengan Al-Qur’an, baik murni dengan Al-Qur’an, maupun disertai dengan obat-obatan.

Namun myakini Al-Qur’an sebagai syifa’ mestilah disertai dengan keikhlasan dan kepasrahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Kembali lagi yang harus kita pahami adalah bahwa pengobatan dengan cara apapun, baik pengobatan dengan Al-Qur’an ataupun obat-obatan, bukan penjamin kesembuhan, kecuali Allah SWT memberikan kesembuhan tersebut. Segalanya kembali kepada kehendak dan ketetapan Allah SWT Yang Memiliki Kesembuhan. (UNS)

Sumber bacaan:

[1] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1423 H/2002, No. 5743, hal. 1454.

[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, Jedah: Majma’ al-Fiqh al-Islami, t.t., jil. IV, hal. 140.

[3] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, t.tp: Dar ‘Alam al-Kutub, t.t., jil. X, hal. 316.

Baca Juga :  Muharram Adalah Bulan Mulia

[4] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, Jedah: Majma’ al-Fiqh al-Islami, t.t., jil. IV, hal. 28.

[5] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, Jedah: Majma’ al-Fiqh al-Islami, t.t., jil. IV, hal. 527-532.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *