Bertakwa hingga Akhir Hayat

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (Q.S. Ali Imran: 102)

Akhir-akhir ini banyak orang saleh yang memilikì kedekatan dengan kita, baik kedekatan geografis maupun kedekatan ideologis yang telah mendahului kita. Mereka dipanggil oleh Allah lantaran masa pengabdiannya di alam dunia telah purna. Kita pun patut merasa iri terhadap mereka yang telah berdedikasi tinggi pada profesinya masing-masing. Secara lahiriyah mereka berhasil mendesain kehidupan sehingga meraih husnul khatimah, in syaa Allah. Banyaknya kesaksian baik atas diri mereka mudah-mudahan menjadi pertanda kesalehan mereka.

Bagaimana dengan kita, seberapa saleh diri kita di mata Allah? Seperti apakah kelak akhir hayat kita tatkala malaikat maut mencabut nyawa kita? Kita tidak tahu pasti. Namun, kita disuruh untuk selalu berhusnuzan kepada Allah, in syaa Allah kita pun akan memperoleh penutupan akhir hidup yang baik. Amin.

Ayat Allah di atas yang acap kali dilafalkan oleh para khatib waktu berkhotbah, juga kerap kali dituturkan oleh para pendakwah ketika berceramah, memandu kita semua supaya mengindahkan dua hal demi meraih akhir hayat yang baik. Pertama, mengoptimalkan ketakwaan kepada Allah selama hayat masih di kandung badan, sebagai implementasi dari titah Allah: ittaqullaha haqqa tuqatih. Kedua, memelihara keislaman dan kebiasaan baik hingga tibanya ajal, sebagai wujud pelaksanaan dari pinta Allah: wa la tamutunna illa wa antum muslimun.

Menurut Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, cara mengimplementasikan titah Allah: ittaqullaha haqqa tuqatih dapat ditempuh dengan melakukan tiga hal, yaitu: pertama, selalu taat kepada Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Kedua, selalu mensyukuri nikmat Allah dan tidak mengingkarinya. Ketiga, selalu mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya. Ketiga-tiganya saling menguatkan satu sama lain untuk mencapai derajat ketakwaan yang sebenar-benarnya.

Baca Juga :  Berapa Nilai Diri Kita di Sisi Allah?

Sedangkan menurut Ibnu Katsir rahimahullah, cara menjalankan pinta Allah: wa la tamutunna illa wa antum muslimun yaitu dengan memelihara keislaman sewaktu dalam keadaan sehat dan selamat sehingga wafat sebagai seorang muslim. Siapa yang hidup dengan kebiasaan tertentu, ia meninggal dalam kebiasaan tersebut. Siapa yang meninggal dalam kebiasaan tersebut, ia akan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu. Dengan kata lain, seseorang akan meninggal sesuai dengan cara hidupnya.

Oleh sebab itu, internalisasi dua pesan Allah dalam ayat di atas pada diri kita sangatlah penting sehingga mampu melahirkan ketaatan, kesyukuran, dan kedekatan diri kepada Allah yang berkelanjutan. Juga dapat membuahkan kebiasaan baik yang berkesinambungan hingga kita menutup mata dalam keadaan husnul khatimah. Semoga Allah selalu menuntun kita semua di jalan yang benar dan istiqamah dalam ketakwaan hingga akhir hayat. Amin. (UNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *