Memungut Mutiara dari Samudra Al-Fatihah

Tak bisa disangkal, Al-Fatihah adalah surah paling populer dan banyak dihafal oleh masyarakat Muslim. Ia dinamai Fatihatul Kitab lantaran berkedudukan sebagai pembuka Kitab (Al-Qur’an). Juga, karena mencakup tema-tema pokok dari keseluruhan Al-Qur’an, ia pun dijuluki sebagai Ummul Kitab atau Ummu Al-Qur’an (induk Al-Qur’an). Selain itu, surah yang berjumlah tujuh ayat ini disebut pula dengan As-Sab’u Al-Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).

Surah Al-Fatihah laksana samudra yang luas dan dalam. Padanya tersimpan berjuta-juta mutiara yang sangat berharga. Di setiap lafaz dan hurufnya terkandung beribu-ribu makna yang amat berguna. Itu semua diturunkan oleh Allah Yang Maha Rahman untuk bekal bagi segenap umat manusia, khususnya insan beriman. Tersisa sebuah pertanyaan, maukah kita menyelaminya lalu memungut mutiara-mutiaranya?

Di antara mutiara yang bisa kita ambil dari samudra Al-fatihah ini, pertama, menyebut asma Allah sebelum berkegiatan. Adalah imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah membuka firman-Nya dengan lafaz basmallah dalam rangka menatar Rasulullah s.a.w dan umatnya supaya memulai segala perbuatan dengan menyebut asma-Nya. Maka, sebelum mulai makan, kita menyebut nama Allah. Sesaat sebelum belajar, kita menyebut nama Allah, dan seterusnya.

Kedua, Allah lah pemilik segala yang ada, karenanya Dia berhak mendapatkan pujian. Imam Ibnu Katsir menandaskan bahwa Alif Lam pada kata Al-Hamdu befaidah al-Istighraq lil jinsi (mencakup segala jenis pujian). Ini mengindikasikan bahwa segala pujian dan sanjungan hanyalah milik Allah semata. Alangkah malunya bila kita mengemis pujian dari orang lain atau merasa berhak mendapat pujian. Siapakah kita di hadapan-Nya yang menurut Wahab bin Munabbih, Dia memiliki 18.000 alam, dan alam dunia ini adalah salah satunya. Allahu Akbar

Baca Juga :  Inilah 7 Nama Buah dalam Al-Qur’an

Ketiga, Mengabdi sepenuh hati dan meminta semesta jiwa hanya kepada-Allah. Ketika kita meyakini Allah sebagai pencipta, pemilik, dan pengatur semesta Alam, maka sudah sepatutnya Dia menjadi satu-satunya Tuhan yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan. Diantara alasan disandingkannya ibadah dan doa minta pertolongan, Al-Biqa’i menerangkan bahwa suatu ibadah takkan optimal pelaksanaanya kecuali bila disertai pertolongan Allah.

Keempat, Teguh pendirian dan konsisten di jalan Allah. Imam As-Sa’di mengemukakan bahwa doa memohon hidayah (agar istikamah dalam menjalankan agama) merupakan doa yang padat makna dan besar manfaatnya bagi manusia. Saking pentingnya, Allah menyuruh kita supaya mengulang-ulang doa tersebut di setiap rakaat shalat.

Kelima, Menghindari jalan menyimpang. Sebagaimana ada jalan lurus, ada pula jalan menyimpang. Maka, selain setiap kita berusaha maksimal untuk tetap istikamah di jalan yang lurus, kita juga berjuang sekuat tenaga supaya tidak membelot dari kebenaran. Sebab, bila itu menimpa kita, akan mengundang murka Allah dan tersesat di jalan yang salah. Semoga Allah menjaga kita agar tetap berada di jalan Allah. (UNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *